Senin, 18 November 2019

KEMBALINYA PENDIDIKAN SWASTA: BUKTI DARI MEKSIKO


Kembalinya Pendidikan Swasta: Bukti dari Meksiko

Balqis Fitria Rahma Kholifatul Khoiria Nella Yanuar RizkiWulan Roudhotul Nasikhah Yulia Triana Ratnasari

Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang

Abstract:

Despite the rapid expansion and increasing importance of private education in developing countries, little is known on the impact of studying in private schools on education and wages. This paper contributes to filling this gap by estimating the returns to private high schools in Mexico. We construct a unique data set that combines labour market outcomes and historical census data, and we exploit changes in the availability and size of public and private high schools across states and over time for identification. We find that attending a private high school does not affect school progression to college nor high school wages but it does positively affect wages conditional on college completion. Results are robust to a number of robustness tests on the validity of the instruments.
Keywords: Private and Public Schools

Abstrak:

Meskipun ekspansi cepat dan semakin pentingnya pendidikan swasta dalam pengembangan negara, sedikit yang diketahui tentang dampak belajar di sekolah swasta pada pendidikan dan upah. Makalah ini berkontribusi untuk mengisi kesenjangan ini dengan memperkirakan kembalinya ke sekolah tinggi swasta di Meksiko. Kami membangun kumpulan data unik yang menggabungkan hasil pasar kerja dan data sensus historis, dan kami mengeksploitasi perubahan dalam ketersediaan dan ukuran publik dan sekolah menengah swasta di seluruh negara bagian dan dari waktu ke waktu untuk identifikasi. Kami mendapati bahwa menghadiri sekolah menengah swasta tidak mempengaruhi perkembangan sekolah ke perguruan tinggi atau upah sekolah menengah tetapi itu secara positif memengaruhi upah tergantung pada kelulusan perguruan tinggi. Hasilnya kuat untuk sejumlah uji ketahanan pada validitas instrumen.
Kata kunci: Sekolah Swasta dan Umum

  Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perdebatan privatisasi sektor pendidikan rendah dan menengah negara berpenghasilan di mana pendidikan swasta cepat diperluas. Sekolah swasta juga disebut dengan sekolah independen atau tidak dikelola oleh pemerintah. Dan pada kenyataannya banyak orang tua memilih sekolah swasta dengan rela mengeluarkan uang atau SPP hanya untuk mendapatkan fasilitas belajar yang nyaman dari sekolah. Para pendukung privatisasi berpendapat bahwa sektor swasta dapat digunakan sebagai sarana meningkatkan akses ke pendidikan melalui pasokan yang efisien: menghadiri sekolah swasta telah dikaitkan dengan yang lebih baik hasil nilai ujian, peningkatan prestasi sekolah dan upah lebih tinggi (mis. Riddell, 1993). Di negara-negara berpenghasilan tinggi, suatu literatur yang luas telah memperkirakan efek menghadiri sekolah swasta tentang pendidikan dan upah menggunakan sejumlah strategi identifikasi untuk mengendalikan bias seleksi.
Sebaliknya, bukti untuk rendah dan menengah negara-negara berpenghasilan tetap sebagian besar deskriptif. Sebagian besar karena keterbatasan data, sebagian besar studi hanya membandingkan meningkatkan upah rata-rata dan pencapaian sekolah antara siswa sekolah swasta dan negeri tanpa mengendalikan untuk seleksi sendiri ke sekolah pilihan. Pengecualian yang terlihat adalah karya Bravo, Mukhopadhyay, dan Todd (2008), yang menggunakan data dari Program kupon sekolah diperkenalkan di Chili pada tahun 1980 hingga mengidentifikasi model struktural dinamis sekolah swasta kehadiran dan upah. Penulis menemukan bahwa voucher Program peningkatan partisipasi dalam subsidi swasta sekolah, yang selanjutnya memiliki signifikan positif berpengaruh pada partisipasi dan upah tenaga kerja.
Dengan demikian, terlepas dari implikasi kebijakan terkait yang penting, sedikit yang diketahui tentang efisiensi relatif swasta dan sekolah umum dalam meningkatkan pencapaian pendidikan dan upah di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Kertas ini berkontribusi mengisi celah ini dengan memperkirakan pengembalian ke sekolah menengah swasta di Meksiko. Kami membangun yang unik dataset yang menggabungkan data tingkat individu di sekolah pilihan dan upah dengan data sensus sekolah tingkat negara bagian sejak akhir 1980-an. Kami pertama kali menjelaskan evolusi dalam ketersediaan dan ukuran sekolah menengah negeri dan swasta melintasi negara bagian di Meksiko selama 1990-an, dan kami menunjukkan itu sektor sekolah menengah negeri berkembang jauh lebih cepat daripada sektor swasta. Kami kemudian mengeksploitasi perubahan ini di ketersediaan relatif dan ukuran publik relatif ke pribadi sekolah menengah untuk mengidentifikasi pengaruh belajar secara pribadi sekolah menengah atas pencapaian sekolah dan upah. Lebih secara khusus, kami mengatur pilihan menghadiri sekolah menengah swasta dengan ukuran kerabat ketersediaan dan ukuran relatif sekolah menengah negeri di Indonesia negara bagian dan tahun ketika pilihan sekolah menengah dibuat untuk sampel pekerja berusia 23-35 tahun 2008.
Kami mendapati bahwa menghadiri sekolah menengah swasta tidak mempengaruhi perkembangan sekolah dari sekolah menengah ke perguruan tinggi juga upah setelah sekolah tinggi, sementara itu memang meningkatkan upah penyelesaian perguruan tinggi. Hasil ini kuat untuk sebuah angka pemeriksaan validitas pada kekuatan dan eksogenitas instrumen, termasuk mengendalikan langkah-langkah pendidikan kualitas dan faktor-faktor lain yang dihilangkan yang mungkin mempengaruhi pilihan sekolah dan upah, kemungkinan didorong oleh permintaan perubahan ketersediaan sekolah menengah, dan antar negara migrasi. Bahkan jika bukti ini meyakinkan, kami menerapkan metode baru - baru ini dikembangkan oleh Nevo dan Rosen (2008) untuk lebih lanjut menilai kekokohan temuan kami menjadi lebih lemah asumsi identifikasi. Secara khusus, kami secara eksplisit memungkinkan instrumen untuk dikorelasikan dengan istilah kesalahan dalam persamaan hasil dan memperkirakan batas dari kembali ke sekolah menengah swasta.
Makalah ini berkontribusi untuk literatur yang ada oleh membangun hubungan kausal positif antara merawat sekolah menengah swasta dan upah di tengah negara penghasil. Dua batasan utama patut dipertimbangkan keberatan ketika menafsirkan temuan. Pertama, kita tidak bisa untuk memperkirakan besaran pengembalian upah yang tepat karena perkiraan kami kemungkinan akan menangkap sebagian dampak faktor yang tidak teramati, seperti efek teman sebaya dan variabel latar belakang keluarga, yang tidak dapat kita kendalikan dengan data yang tersedia. Kedua, estimasi kami harus dianggap sebagai pengembalian jangka pendek ke sekolah menengah swasta setelah lulus sejak kami bekerja dengan sampel pekerja muda. Kembali ke sekolah menengah swasta bisa mengurangi dalam jangka panjang jika seiring waktu, pengalaman kerja menjadi penentu penghasilan yang lebih penting daripada jenis sekolah yang dihadiri.

A. Sekolah menengah negeri dan swasta di Meksiko

Sistem pendidikan Meksiko adalah salah satu yang terbesar di Amerika Latin mencakup 33,3 juta siswa pada tahun 2008, atau 31,5% dari populasi negara (SEP, 2008a, 2008b). Ada dua belas tahun pendidikan formal sebelum kuliah: enam tahun primer, tiga tahun sekunder, dan dua atau dua tiga tahun sekolah menengah. Tiga jenis utama sekolah menengah pendidikan ditawarkan: (i) bachillerato umum, yang mengarah siswa di jalur akademis dalam persiapan untuk kuliah; (ii) bachillerato tecnolo'gico, yang memiliki lebih teknis fokus dan persiapkan siswa untuk pekerjaan kejuruan atau pendidikan tinggi untuk menjadi teknisi yang berkualitas di Indonesia area spesifik; dan
(iii) te'cnico profesional, yaitu program dua tahun yang dirancang untuk siswa yang mencari lebih pelatihan teknis atau kejuruan yang tidak memungkinkan kelanjutan ke perguruan tinggi.
Pendidikan sekolah menengah ditawarkan oleh campuran publik dan lembaga swasta.
Pendaftaran di publik dan sekolah menengah swasta umumnya terbuka untuk kapasitas dan hanya jika sekolah yang kelebihan permintaan mengelola suatu ujian masuk. Namun, ada hambatan moneter untuk masuk, terutama di sektor swasta di mana sekolah berada terutama dibiayai melalui biaya kuliah. Sekolah menengah umum adalah gratis dan sepenuhnya didanai oleh federal, negara bagian, atau pemerintah kota. Bahkan kemudian, siswa sering didorong untuk memberikan kontribusi sukarela, beragam tergantung pada kebutuhan sekolah, tingkat kemiskinan wilayah dan otoritas administratif. Sebagai tambahan, siswa di sekolah menengah swasta dan negeri harus menutupi biaya ujian, bahan sekolah, transportasi dan lainnya biaya hidup.
Sejumlah beasiswa membantu siswa mendapat biaya-biaya ini. Mereka terutama ditawarkan dalam konteks Oportunidades, program anti kemiskinan terbesar di Indonesia negara, yang menyediakan transfer tunai ke keluarga miskin tergantung pada primer, sekunder dan, mulai tahun 2001, kehadiran di sekolah menengah. Sejak 2003, Jo'venes con Oportuni- Dades, juga memberikan insentif moneter untuk menyelesaikan sekolah menengah. Pinjaman siswa juga terbatas pada ruang lingkup dan cakupan dan hanya membiayai pendidikan perguruan tinggi. Pada tahun 2008 angka partisipasi di sekolah menengah adalah 61%, dari yang sekitar 19% berada di sekolah swasta. Dari mereka yang didaftar, 61% didaftar di bachillerato general (25% secara pribadi sekolah), 29% dalam bachillerato tecnolo'gico (11% secara pribadi sekolah) dan 10% di te'cnico profesional (17% secara pribadi sekolah) (SEP, 2008a, 2008b dan memiliki perhitungan sendiri).

B. Tren dalam penyediaan pendidikan sekolah menengah

Selanjutnya tentang dokumentasi evolusi dalam ketentuan tinggi pendidikan sekolah oleh publik dan sektor swasta menggunakan data dari Sensus Sekolah Meksiko (Censo Escolar atau EstadΔ±stica 911), yang dikumpulkan setiap tahun oleh Sekretariat Pendidikan Publik (SecretarΔ±´a de Educacio´n Pu´blica atau SEP). Sensus sekolah berisi jumlah sekolah, guru, siswa dan kelas untuk masing-masing 32 negara bagian Meksiko oleh tingkat pendidikan dan berdasarkan jenis sekolah (negeri / swasta). Kita telah menggabungkan catatan kertas dari tahun 1970 hingga 1989 dan online mencatat sejak 19907 untuk membangun dataset dengan nomor tersebut sekolah, guru, siswa dan kelas menurut tahun dan oleh negara di sekolah menengah swasta dan publik dari 1970 hingga 2000. Sektor publik telah berkembang lebih cepat daripada sektor swasta. Setelah periode pertumbuhan berkelanjutan, jumlah sekolah menengah negeri selama 16-18 kelompok populasi meningkat secara dramatis di tahun pertengahan 1980-an untuk melanjutkan jalur pertumbuhan yang lebih moderat kemudian. Ini adalah hasil dari perubahan jangka panjang di kebijakan pendidikan yang dimulai pada 1950-an dengan perluasan pendidikan dasar dan menengah, dan dipercepat pada tahun 1970-an sebagai hasil dari pemerintahan strategi untuk mempromosikan pencapaian pendidikan di luar wajib belajar (Go'mez, 1999). Selain itu, ikuti rekomendasi oleh organisasi internasional. Meksiko telah merubah investasi publik dalam pendidikan berupa pendidikan dasar dan sekolah menengah teknologi. Pada tahun 1990, sektor publik berkembang lebih cepat dari sektor swasta, khususnya setelah tahun 1993.
Kenaikan jumlah tingkat pendaftar (diatas usia 16-18 tahun) baik di sekolah negeri maupun swasta (lihat Gambar 2). Dari tahun 1970 hingga pertengahan 1980-an, tingkat pendaftaran di sekolah menengah umum jauh lebih besar dibandingkan sekolah menengah swasta (24% berbanding 4%). Setelah diamati mulai tahun 1990-an, kecenderungan kompilasi tingkat pendaftaran meningkat 10% di sekolah menengah atas negeri dan 3% di sekolah menengah swasta. Hasilnya, 2000 pendaftar di sekolah menengah swasta, yaitu 9%, secara substansial lebih rendah dari pendaftaran sekolah menengah negeri, yaitu sebesar 33%.
Diharapkan adanya perubahan jumlah sekolah menengah swasta dan negeri dapat memengaruhi keputusan mereka dalam mendaftar sekolah, terutama pada pertengahan 1980-an. Di seluruh negara bagian juga terdapat variasi substansial. Selanjutnya yaitu lebih fokus pada sampel pekerja yang berusia 23-35 tahun pada tahun 2008 dan memanfaatkan perbedaan waktu lintas negara untuk mengenalkan pengaruh yang berbeda-beda dari belajar di sekolah menengah swasta mengenai upah.
Strategi empiris
Untuk menghitung pembayaran upah untuk mengikuti sekolah swasta yang relatif ke sekolah menengah negeri, menentukan persamaan upah berikut: a) Kami menyusun π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘ƒπ‘ dengan membagi jumlah seluruh warga sekolah menengah atas


 


 
(swasta dan umum) jumlah sekolah menengah atas dalam keadaan dan tahun tertentu. Mengukur bagian atau proporsi sekolah menengah umum dan proxy untuk ketersediaan potensial antara sekolah menengah atas umum ke swasta pada tahun sebelum individu masuk sekolah menengah atas. Tidak adanya data secara aktual yang tersedia di sekolah, kami menggunakan jumlah siswa yang mendaftar di sekolah sebagai proksi untuk kapasitas sekolah. Oleh karena itu, kami membuat 𝑆𝑖𝑧𝑒𝑃𝑏 dengan membagi jumlah total siswa yang mendaftar di sekolah menengah (swasta dan umum) di negara bagian tertentu dan tahun itu., dan ukuran yang relatif tinggi pada sektor sekolah yaitu semakin tinggi proporsi siswa di sekolah menengah umum, semakin besar ukuran relatif masyarakat sektor sekolah menengah.

Identifikasi
Dengan bersama-sama memperkirakan persamaan. (1) dan (2), kami menggabungkan efek belajar di swasta ke sekolah menengah umum dengan upah, 𝛿̂, melalui hubungan variasi ketersediaan dan ukuran sekolah menengah negeri di seluruh usia kohort dan negara bagian. Strategi identifikasi dan tahun dimulainya sekolah menengah menentukan pentingnya seseorang telah mencapai peningkatan partisipasi sekolah menengah atas negeri maupun swasta. Dengan kata lain, pilihan belajar di swasta atau sekolah menengah umum bervariasi tergantung pada kapan dan di mana
keputusan sekolah menengah dibuat yaitu, berapa tahun kelompok sudah mencapai peningkatan dan perluasan sekolah di negara bagian. Oleh karena itu, dengan adanya dari peningkatan relatif dalam perbandingan sekolah menengah swasta, perubahan dalam partisipasi sekolah menengah tidak akan terjadi di bagian negara yang relatif rendah sekolah menengah negeri.
Validitas temuan kami sesuai pada validitas instrumen, persetujuan tergantung pada instrumen korelasi kuat dengan pilihan belajar di sebuah sekolah menengah swasta atau negeri. Berarti bahwa baik pangsa dan ukuran relatif tinggi sekolah negeri di negara bagian dan tahun sebelum sekolah menengah pendaftaran harus menjadi penentu penting keputusan individu untuk memutuskan sekolah menengah swasta / umum. Jika perlu untuk masuk, masyarakat sekolah menengah dan jumlah mereka relatif meningkat di tingkat negara bagian, siswa lebih banyak sekolah menengah umum (swasta). Jika mungkin khawatir namun, keputusan sekolah disetujui oleh pendidikan di tingkat yang lebih tinggi seperti lokal provinsi atau kota tempat tinggal. Ini tidak mungkin menjadi kasus di Meksiko, dimana migrasi negara telah menjadi lebih umum sejak tahun 1970, terutama menuju kota-kota berukuran sedang (CONAPO, 1999). Selanjutnya, tahap pertama estimasi akan memberikan ukuran langsung korelasi yang kuat antara instrumen dan pilihan sekolah menengah.
Selain itu, instrumen harus eksogen dan memenuhi batasan persetujuan. Ini berarti ukuran ketersediaan sekolah negeri relatif tinggi tidak berkorelasi dengan istilah kesalahan dalam pilihan sekolah Persamaan. (2) hanya dapat mempengaruhi upah melalui keputusan untuk memutuskan sekolah menengah atas swasta atau SMA umum . Dengan kata lain, instrumen tidak bisa berkorelasi dengan variabel lain yang mungkin juga berpengaruh terhadap hasil pasar tenaga kerja, seperti pertumbuhan agregat. Di bagian 6 kami memberikan bukti langsung dari instrumen ' validitas dalam konteks dan mendiskusikan potensi tantangan.
Pada saat yang sama (1) dan (2) sampel pekerja, kami berhasil menyelesaikan 'keseluruhan' sekolah menengah swasta, pengaruh transfer belajar di sekolah menengah swasta terhadap pertemuan di perguruan tinggi, penyelesaian kuliah, dan upah. Untuk membahas masing-masing pengaruh ini secara terpisah yang muncul sekolah menengah swasta yang dapat mempengaruhi belajar. Kami hanya akan membahas pengaruh belajar pada hubungan sekolah swasta ke sekolah menengah negeri dengan upah, dengan pendidikan tertinggi yang diraih yaitu, bagi yang sudah selesai pendidikan sekolah menengah, perguruan tinggi yang belum selesai dan selesai kuliah. Selain itu, kami juga akan memperkirakan pengaruh keputusan memilih sekolah tinggi, mendaftar ke perguruan tinggi dan menyelesaikan kuliah, dan jumlah total tahun menyelesaikan pendidikan.


Kesimpulan

Efisiensi sekolah swasta dan sekolah negeri dinilai relatif penting karena adanya sejumlah alasan. Pertama, sektor swasta dapat digunakan untuk memperluas penyediaan pendidikan di bawah kondisi meningkatnya permintaan sekolah dan terbatasnya dana untuk pembangunan sosial. Kedua, sekolah swasta sering dianggap lebih efisien daripada sekolah negeri sejauh keluarga bersedia membayar biaya kuliah karena semakin besar pilihan yang ditawarkan, maka akan semakin banyak preferensi pendidikan yang terpenuhi (misalnya jenis kelamin, sekolah agama atau alternatif bahasa yang berbeda), atau karena sekolah swasta dianggap sebagai cara mudah untuk mendapatkan gelar sebagai gantinya uang yang sudah dikeluarkan. Sejumlah reformasi pendidikan berskala besar telah diusulkan untuk mendorong sekolah negeri agar meniru teknologi sekolah swasta dan mempromosikan akses ke sekolah swasta melalui voucher dan subsidi pendidikan. Contoh utamanya adalah program voucher sekolah nasional diimplementasikan di Chili pada tahun 1980. Yang lebih baru lagi contohnya adalah program subsidi untuk sekolah swasta diperkenalkan oleh pemerintah Meksiko pada 25 Februari 2011. Oleh karena itu, penting untuk menyelidiki dan melalui mekanisme mana yang digunakan untuk memperkenalkan pilihan antara sekolah negeri dan swasta yang mana akan membantu meningkatkan prestasi siswa secara keseluruhan (Goldhaber, 1996).
Binelli & Rubio-Codina (2013) mengukur efisiensi relatif sekolah swasta dan sekolah negeri dengan mengukur dampak sekolah menengah swasta tentang pencapaian pendidikan dan upah di Meksiko. Binelli & Rubio-Codina mengeksploitasi peningkatan yang signifikan dalam kerabat ketersediaan dan ukuran sekolah menengah negeri di negara ini pada 1990-an di seluruh negara bagian dan dari waktu ke waktu sebagai eksogen shifter yang memengaruhi pilihan individu untuk mendaftar sekolah menengah swasta atau sekolah menengah negeri. Binelli & Rubio-Codina menemukan bahwa bersekolah di sekolah menengah swasta tidak mempengaruhi adanya perkembangan dari sekolah menengah ke perguruan tinggi tetapi hal tersebut dapat meningkatkan upah dimana tergantung pada penyelesaian pendidikan di perguruan tinggi. Apalagi perbandingan antara IV dan Hasil OLS menunjukkan bahwa perkiraan OLS terdapat bias seleksi yang negatif, konsisten dengan biaya sekolah menengah swasta yang sangat tinggi.
Kontribusi dari penelitian yang dilakukan Binelli & Rubio-Codina adalah untuk membangun hubungan positif sebab akibat antara bersekolah di sekolah swasta dan upah di negara berpenghasilan menengah. Keterbatasan utama dalam analisis empiris adalah bahwa data yang tersedia tidak memungkinkan adanya gambaran jawaban konklusif pada besarnya pengembalian upah. Karena itu, beberapa catatan kehati-hatian diperlukan ketika membuat kebijakan implikasi.
Pertama, sementara hasilnya kuat untuk sejumlah pemeriksaan validitas instrumen, tidak dapat dijelaskan bahwa faktor-faktor penting yang berpotensi tidak teramati dapat menjelaskan bagian dari efek sekolah menengah swasta dari segi upah seperti efek teman sebaya dan latar belakang keluarga. Kedua, dengan data yang tersedia kita dapat memperkirakan jangka pendek pengembalian ke sekolah menengah swasta, yang mungkin berubah dalam jangka panjang. Ketiga, pendaftaran di


sekolah menengah swasta biayanya mahal dan mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah ini kemungkinan memiliki akses ke pembiayaan yang dianggap relatif murah. Untuk yang lain, biaya sekolah swasta mungkin mahal. Dengan demikian, sementara sekolah swasta dapat meningkatkan akses ke pendidikan dan melakukannya secara efisien (mis. Bravo et al., 2008), jalan menuju peningkatan akses dan ekuitas berkaitan dengan implementasi program yang membahas keadilan keprihatinan, seperti beasiswa yang ditargetkan pada siswa yang tidak mampu membayar biaya sekolah swasta, dan program untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekolah negeri.
Secara keseluruhan, temuan Binelli & Rubio-Codina memotivasi untuk mengumpulkan lebih banyak data terperinci tentang sekolah, siswa, teman sebaya dan keluarga siswa untuk memastikan cara yang tepat di mana belajar, apakah di sebuah sekolah menengah swasta mempengaruhi prestasi pendidikan dan hasil pasar tenaga kerja, dan dengan demikian menginformasikan desain kebijakan pendidikan yang efektif.

Daftar Rujukan

Binelli, C. dan Rubio-Codina, M. 2013. The Returns to Private Education: Evidence from Mexico.
Economics of Education Review, 36, 198-215.
Brown, C., & Belfield, C. 2001. The relationship between private schooling and earnings: A review of the evidence for the US and the UK. Teachers College Occasional Paper No. 27, Columbia University.
Card, D., & Krueger, A. 1996. Labor Market Effects of School Quality: Theory and Evidence. NBER Working Paper Series 5450.
CONAPO. 1999. 25 an˜os de cambio  de  la  migracio´ n  interna  en  Me´ xico. Consejo Nacional de Poblacio´ n. Me´ xico D.F.
DomΔ±´nguez, A´ ., & Pe´ rez Go´ mez, M. H. 1993. El Bachillerato: Su evolucio´ n e influencia en la demanda de carreras cientΔ±´ο¬cas en el nivel de licencia- tura. Perfiles Educativos, 62, Universidad Nacional Auto´ noma de Me´ xico, Me´ xico, D.F.
Fitzsimons, E., & Malde, B. 2010. Empirically Probing the Quantity–Quality Model. IFS Working Paper 10/20.


Nevo, A., & Rosen, A. 2008. Identification with imperfect instruments. CEMMAP Working Paper CWP16/08.
Reinhold, S., & Woutersen, T. 2009. Endogeneity and imperfect instruments: Estimating bounds for the effect of early childbearing on high school completion. http://~econ.ucsb.edu/ doug/245a/Papers/Imperfect%20In- struments.pdf.
Sallis. 2016. Total Quality Management in Education. London: Kogan Page Educational Series. SEP 2008. Reforma Integral de la Educacio´ n Media Superior. Anexo U´ nico. Me´ xico.
SEP 2008. Sistema Educativo de los Estados Unidos Mexicanos. Prinicipales Cifras. Ciclo escolar 2007–2008. Me´ xico.
Sunarto, H. 1985. Penduduk Indonesia dalam Dinamika Migrasi 1971-1980. Dua Dimensi: Yogyakarta.

Sabtu, 16 November 2019

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas matakuliah Perkembangan Peserta Didik yang dibina oleh Bapak Dr. Adi Atmoko, M.Si.




Oleh :
Aa Coreta
Afra Irrene Fredyski
Yulia Triana Ratnasarai
Wulan Roudhotul Nasikhah








UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN Februari, 2018


KATA PENGANTAR



Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia- Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Karakteristik Perkembangan Peserta Didik” ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menerangi semua umat di muka bumi ini dengan cahaya kebenaran. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesaian penyusunan makalah ini.Khususnya kepada dosen pembimbing yaitu Dr. Adi Atmoko, M.Si.yang telah membimbing dan membagikan ilmunya kepada kami.

Kami selaku penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi maupun dari segi bahasa.Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat konstruktif untuk penyempurnaan makalah ini.Kami berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca.




Malang, 12 Februari 2018






Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik, maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan hubungan sosial diharapkan dapat memahami pengertian dan proses sosialisasi peserta didik.
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.Oleh sebab itu, peserta didik harus mendapat pendidikan yang layak agar mampu menjadi pribadi yang berguna khususnya dilingkungan sekitarnya.Setiap waktu pola pikir seseorang pasti mengalami peningkatan, seiring dengan berkembangnya otak seseorang. Proses belajar sangat penting untuk menunjang kecerdasan anak di masa yang akan datang.
Perkembangan adalah salah satu proses yang harus dialami oleh setiap  peserta didik baik dalam naungan lembaga formal maupun non-formal. Dan di dalam perkembangan terdapat aspek yang mendukung yang terdiri dari aspek fisik, psikomotorik, kognitif, bahasa,sosioemosi, moral, dan spiritual. Dan yang akan kami bahas adalah aspek fisik dan psikomotorik. Perkembangan fisik adalah perkembangan struktur tubuh manusia yang terjadi sejak dalam kandungan hingga ia dewasa atau mencapai tingkat kematangan pertumbuhannya. Proses perubahannnya adalah menjadi panjang (pertumbuhan vertikal) dan menjadi lebar (pertumbuhan horizontal) dalam suatu proporsi bentuk tubuh. Perkembangan psikomotorik adalah perkembangan mengontrol gerakan-gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan saraf pusat, saraf tepi dan otot.
Tanpa sebuah perkembangan dari peserta didik, maka perkembangan suatu Negara tidak akan pernah berjalan dengan lancar. Untuk itu, sebagai tenaga pendidik harus mengetahui konsep – konsep dan prinsip – prinsip dasar dari perkembangan belajar peserta didik untuk memudahkan proses belajar mengajar.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah aspek fisik dalam perkembangan peserta didik?
2.      Bagaimana perkembangan fisik pada usia taman kanak-kanak?
3.      Bagaimana perkembangan fisik pada usia sekolah dasar?
4.      Bagaimana perkembangan fisik pada usia remaja (SMP)?
5.      Bagaimana perkembangan fisik pada usia remaja (SMA)?
6.      Apakah aspek psikomotorik dalam perkembangan peserta didik?
7.      Bagaimana tahap perkembangan psikomotorik itu?
8.      Apa karakteristik aspek perkembangan peserta didik?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa aspek fisik dalam perkembangan peserta didik.
2.      Untuk mengetahui perkembangan fisik pada usia taman kanak-kanak.
3.      Untuk mengetahui perkembangan fisik pada usia sekolah dasar.
4.      Untuk mengetahui fisik pada usia remaja (SMP).
5.      Untuk mengetahui perkembangan fisik pada usia remaja (SMA).
6.      Untuk mengetahui apa aspek psikomotorik dalam perkembangan peserta didik.
7.      Untuk mengetahui tahap perkembangan psikomotorik.
8.      Untuk mengetahui karakteristik aspek perkembangan peserta didik.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Aspek Fisik dalam Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan fisik yang dimaksud adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan keterampilan motorik.Perubahan pada tubuh ditandai dengan perubahan tinggi dan berat badan, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi serta perubahan fisik pada otak sehingga strukturnya semakin sempurna dalam meningkatkan kemampuan kognitif (Papalia & Olds, 2001).
Children’s physical growth is marked by the loss of their characteristic protruding abdomen as their legs and trunk grow faster than their heads. The center of gravity-the point in the body around which weight is evenly distributed-begins to move lower, allowing children to become steadier on their feet and capable of movements that were impossible when they were top-heavy infants and toddlers.(Schickedanz et al., 1982).
Selama masa ini, anak-anak juga mengembangkan preferensi yang dapat diamati saat mereka lebih sering menggunakan salah satu tangan saja.Banyak anak yang lebih menyukai tangan kanan mereka, tetapi itu menunjukkan adanya suatu preferensi pada tangan kiri mereka yang tidak boleh dipaksa untuk berubah.Pencapaian utama dalam perkembangan fisik untuk anak-anak prasekolah adalah peningkatan kontrol terhadap pergerakan kasar dan halus. Aktivitas motorik halus mengacu pada gerakan yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan, seperti mengikat sepatu dan menulis surat sesuai hufut abjad. Aktivitas motorik kasar melibatkan pergerakan seperti berjalan dan berlari.Dengan  berakhirnya masa prasekolah, sebagian besar anak-anak dapat dengan mudah menyelesaikan tugasnya sendiri.

B.     Perkembangan Fisik Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak
Perkembangan fisik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Perkembangan fisik adalah perkembangan yang berlangsung sangat cepat pada masa kanak-kanak.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock, 1995).

C.     Perkembangan Fisik Pada Anak Usia Sekolah Dasar
Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain.Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah.Guru SD diharap merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya.
Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit.Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok. Guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok.
Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.


D.    Perkembangan Fisik Pada Usia Remaja (SMP)
Dalam perkembangan remaja, perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik.Tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai dengan berkembangnya kapasitas reproduktif.
Perkembangan fisik pada masa remaja diawali dengan pubertas, adalah masa kematangan fisik yang sangat cepat, yang meliputi aspek hormonal dan perubahan fisik. Pikiran mereka juga berubah dengan artian mereka lebih dapat berfikir abstrak dan hipotesis, perasaan mereka berubah hampir terhadap segala hal, semua bidang cakupan perkembangan sebagai seorang remaja menghadapi tugas utama mereka, membangun identitas termasuk identitas seksual yang akan terus mereka bawa sampai masa dewasa.
Dengan berkurangnya perubahan fisik kecanggungan pada masa puber dan awal masa remaja pada umumnya menghilang, karena remaja yang lebih besar sudah mempunyai waktu tertentu untuk mengawasi tubuhnya yang bertambah besar.Mereka juga terdorong untuk menggunakan kekuatan yang diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untuk mengatasi kecangguangan yang timbul kemudian.
Karena kekuatan mengikuti pertumbuhan otot, anak laki-laki pada umumnya menunjukkan kekuatan yang terbesar pada usia 14 tahun, sedangkan anak perempuan menunjukkan kemajuan pada usia ini dan kemudian ditinggalkan karena perubahan minat lebih daripada kurangnya kemampuan.

E.     Perkembangan Fisik Pada Usia Remaja (SMA)
Perubahan fisik selama masa remaja dibagi menjadi beberapa tahap:
1. Perubahan Eksternal
Perubahan yang terjadi selama masa remaja dibagi menjadi beberapa tahap:
a.       Tinggi Badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tingkat matang pada usia antara 17 dan 18 tahun, rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun setelahnya. Perubahan tinggi badan remaja dipengaruhi asupan makanan yang diberikan, pada anak yang diberikan imunisasi pada masa bayi cenderung lebih tinggi dipada anak yang tidak mendapatkan imunisasi.Anak yang tidak diberikan imunisasi lebih banyak menderita sakit sehingga pertumbuhannya terlambat.
b.      Berat Badan
Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi badan, perubahan berat badan terjadi akibat penyebaran lemak pada bagian-bagian tubuh yang hanya mengandung sedikit lemak atau bahkan tidak mengandung lemak.
Ketidakseimbangan perubahan tinggi badan dengan berat badan menimbulkan ketidak idealan badan anak, jika perubahan tinggi badan lebih cepat dari berat badan, maka bentuk tubuh anak menjadi jangkung (tinggi kurus), sedangkan jika perubahan berat badan lebih cepat dari perubahan tinggi badan, maka bentuk tubuh anak menjadi gemuk gilik (gemuk pendek).
c.       Proposi Tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan yang tumbuh baik.Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu pandang.
d.      Organ Seks
Baik laki-laki maupun perempuan, organ seks mengalami ukuran matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.
e.       Ciri-ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder yang utama, perkembangannya matang pada masa akhir masa remaja. Ciri sekunder tersebut antara lain ditandai dengan tumbuhnya kumis dan jakun pada laki-laki, sedangkan pada perempuan ditandai dengan membesarnya payudara.
2. Perubahan Internal
Perubahan yang terjadi dalam organ dalam tubuh remaja dan tidak tampak dari luar.Perubahan ini nantinya sangat mempengaruhi kepribadian remaja. Perubahan tersebut adalah:
a.       Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot-otot diperut dan dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
b.      Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia 17 atau 18, beratnya 12 kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.
c.       Sistem Pernafasan
Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia 17 tahun; anak laki-laki mencapai tingkat kematangan baru beberapa tahun kemudian.
d.      Sistem Endokrin
Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidak seimbangan sementara dari seluruh sistem endokrin pada masa awal puber.Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran yang matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa.
e.       Jaringan Tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun. Jaringan selain tulang, khususnya bagi perkembangan otot, terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran yang matang.

F.      Aspek Perkembangan Psikomotorik
Perkembangan motorik sangat berkaitan erat dengan perkembangan fisik anak.Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord.Perkembangan motorik yang sempurna sangat menopang dalam melaksanakan tugas perkembangan anak pada umumnya, terlebih lagi bagi kalangan tertentu yang menggunakan kecerdasan motorik sebagai tumpuannya, seperti olahragawan dan profesional.Psikomotorik dan motorik memiliki definisi yang berbeda.Secara umum, motorik adalah gerak sedangkan psikomotorik adalah kemampuan gerak. Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjukkan  pada hal, keadaan, yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakannya, demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya. Motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.
Terdapat lima prinsip perkembangan motorik ialah: perkembangan motorik merupakan fungsi dari pematangan susunan dan otot, gerakan motorik tak akan terjadi sampai anak memiliki kesiapan motorik dan syaraf untuk gerakan itu, perkembangan motorik secara umum mengikuti pola yang dapat diramal, hukum sefalokaudal dan hukum proksimodistal berlaku untuk perkembangan motorik, dimungkinkan untuk menegakkan perkembangan motorik, dan ada perbedaan individual dalam perkembangan motor
           
G.    Tahap Perkembangan Psikomotorik
Dalam perkembangan psikomotorik terdapat beberapa tahap yang dilalui, tahap tersebut penting untuk diketahui oleh guru. Beberapa tahap psikomotorik menurut Hartinah (2008:6) adalah sebagai berikut:
1.      Tahap Kognitif
Gerakan yang kaku dan lambat adalah salah satu cirinya, alasannya karena siswa masih dalam taraf belajar mengendalikan gerakan-gerakannya.Dalam tahap tersebut dia harus berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan sebuah gerakan, kadang kala dia merasa frustasi karena sering membuat kesalahan.
2.      Tahap Asosiatif
Pada tahap ini dalam melakukan sebuah gerakan siswa lebih cepat dalam memikirkannya.Gerakan-gerakannya pun sudah mulai tidak kaku karena lebih sedikit waktu yang diperlukan tersebut. Dia mulai dapat mengasosiasikan gerakan yang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah ia kenal sebelumnya. 
3.      Tahap Otonomi
Pada tahap ini proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat memperbaiki garakan-gerakannya tersebut. Gerakan-gerakan pada tahap ini telah dilakukan secara spontan, oleh karenanya gerakan-gerakan yang dilakukan tidak mengharuskan untuk memikirkan terlebih dahulu tentang gerakannya.

H.    Karakteristik Aspek Perkembangan Peserta Didik
Aspek Fisik
Aspek Fisik merupakan bagaimana mengenal karakteristik (mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu) peserta didik, dengan potensi fisik tidak hanya mengacu pada kondisi kesehatan fisik (kondisi kesehatan tubuh) dan keberfungsian anggota tubuh (cacat fisik, atau kemampuan alat indrawi, seperti penglihatan dan kemampuan pendengaran. tetapi juga berhubungan dengan proporsi pertumbuhan dan perkembangan fisik postur tubuh yang dipengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi, perkembangan dan keterampilan psikomotorik (kemampuan dalam menggunakan skil aktifitas organ tubuh,) yang berhubungan dengan menurut Gardner (1983) kecerdasan kinestetis. 
Pertumbuhan fisik adalahperubahan –perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin utama(primer) dan ciri kelamin kedua(sekunder). Urutan perubahan fisikadalah sebagai berikut:
Pada anak perempuan:
1.      Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan memanjang)
2.      pertumbuhan payudara
3.      tumbuh bulu halus berwarna gelap di kemaluan
4.      mencapai pertumbuhan badan yang maksimum setiap tahunnya
5.      bulu kemaluan menjadi keriting
6.      menstruasi atau haid
7.      tumbuh bulu ketiak
Pada anaklaki-laki:
1.      Pertumbuhan tulang-tulang
2.      testis (buah pelir) membesar
3.      tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus,dan berwarna gelap
4.      awal perubahan suara
5.      ejakulasi (keluar air mani)
6.      bulu kemaluan menjadi keriting
7.      mencapai pertumbuhan badan yang maksimum setiap tahunnya
8.      tumbuh rambut-rambut halsdi wajah (kumis, jenggot)
9.      tumbuh bulu ketiak
10.  akhir perubahan suara
11.  rambut-rambut di wajah berambah tebal dan gelap
12.  tumbuh bulu di dada
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya.Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya, maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Adapun karakeristik peserta didik dibahas sebagai berikut:
1.      Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah.Guru SD diharap merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya.
2.      Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak.
Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit.Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
3.      Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok.
Guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok.
4.    Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.
Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia :
1.         Infancy toddlerhood (usia 0-3 tahun)
Infancy & Toddlerhood adalah tahap pertama pada perkembangan manusiasetelah ia dilahirkan. Pada tahap ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat pesat pada seluruh aspeknya. Pertumbuhan fisik adalah perubahan yang paling mudah dilihat dibandingkan dengan perkembangan lain. Pertambahan berat dapat mencapai 6 kali lipat dan tinggi badan dapat mencapai 2 kali lipat dibandingkan ketika ia dilahirkan. Pertumbuhan ini membutuhkan nutrisi yang baik.
Perkembangan kognitif pada tahap ini dapat dilihat dari kemampuan berpikir dan bahasa anak.Perubahan kognitif dibahas cukup lengkap oleh Piaget.Ia membahas cara belajar dan tahapan yang terjadi. Ahli-ahli dalam bidang lain juga berusaha untuk menjelaskan perubahan ini.
Perkembangan lain yang terlihat pada bayi dan batita adalah perkembangan emosi dan temperamen. Bayi dapat mengekspresikan emosinya melalui tangisan, senyuman dan tawa.
2.         Early childhood (usia 3-6 tahun)
Early childhood (usia prasekolah) adalah periode dari akhir masa bayi sampai umur lima atau enam tahun. Selama periode ini, anak menjadi makin mandiri, siap untuk bersekolah (seperti mulai belajar untuk mengikuti perintah dan mengidentifikasi huruf), dan banyak menghabiskan waktu bersama teman. Selepas taman kanak-kanak biasanya dianggap sebagai batas berakhirnya periode ini.
3.         Middle childhood (usia 6-11 tahun)
Middle Childhood (masa sekolah dasar) adalah masa dimulai dari usai enam sampai sebelas tahun.Anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, dan menghitung.Prestasi menjadi tema utama dari kehidupan anak dan mereka sampai mampu mengendalikan diri.Dalam periode ini, mereka berinteraksi dengan dunia sosial yang lebih luas di luar keluarganya.
Sedangkan perubahan pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek berikut:
1.      Perkembangan Fisik.
Pertumbuhan fisik merupakan proses tumbuh kembang yang ditandai dengan Peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya.
2.      Perkembangan Motorik.
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar halus.
a.         Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar.Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.
Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
b.      Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih.Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.Sisteatis mempunyai aarti bahwa perkembangan yang terjadi adalah perkembangan yang teratur atau tersistem.Sementara progresif mempunyai arti bahwa perubahan yang terjadi dalam perkembangan ke arah yang lebih baik atau maju dan berkesinambungan diartikan bahwa perubahan yang terjadi saling berkait antara sebelumnya dan sesudahnya terjadi perubahan.
Perkembangan dapat ditujukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan instrument yang sesuai.














DAFTAR RUJUKAN

Gardner, H. 1983. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
Hartinah, S. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Refika Aditama.
Hurlock, E. B. 1998. Psikologi Perkembangan Edisi Ke-5. Jakarta: Erlangga.
Papalia, D. E., Old, S. W., Feldman, & R. D. 2001. Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika.
Slavin, R. E. 2006.Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson Education, Inc.
Schickedanz, J. A., Schickedanz, D. I., and Forsyth, P. D. 1982.Toward Understanding Children. Boston: Little, Brown.
Santrock, J. W. 1995. Life-Span development: Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.